A Man Called Ove: Why Life is Worth Living?

 

"Kematian itu aneh. Orang menjalani seluruh hidup mereka seolah kematian itu tidak ada."

Ove, seorang lelaki paruh baya yang hidup sendirian sejak isterinya meninggal tidak akan pernah tenang lagi setelah kotak suratnya ditabrak oleh tetangga barunya.

Tidak mudah untuk menyukai karakter Ove di bab awal buku ini. Kakek tua yang getir, galak, dan pemurung. Ove tidak sungkan-sungkan untuk mengajukan pertanyaan atas ketidaktahuan yang membuat orang yang ditemuinya menjadi tidak nyaman.

Ove tidak segan-segan untuk marah kalau ia menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Bagi Ove, dunia itu hitam dan putih. Kalau kamu tidak mengetahui sesuatu, itu berarti kamu memang bodoh.

Akan tetapi, beberapa bab kemudian saya justru mengasihi tokoh Ove ini. Saya tidak bisa menahan air mata saya setelah mengetahui apa yang terjadi padanya di masa lalu dan di masa sekarang.

Setelah isterinya meninggal, Ove tidak memiliki tujuan hidup lagi. Ove berhenti untuk hidup. Saya suka banget dengan pilihan kata penerjemah ini. Untuk seseorang yang sudah melalui banyak kematian di dalam hidupnya, Ove akhirnya mengerti bahwa kepergian Sonja adalah akhir bagi hidupnya juga.

Ove sudah merencanakan bagaimana ia akan mengakhiri hidupnya. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk bunuh diri. Ia akan bunuh diri tanpa menyulitkan proses yang akan dilakukan terkait dengan kematiannya. Ove Bahkan membersihkan rumahnya, mencuci piring kotor, merapikan lemari dan gudangnya, dan menulis surat instruksi usai kematiannya.

Akan tetapi, rencananya untuk mati tidak semulus yang ia bayangkan. Gangguan demi gangguan datang silih berganti. Mulai dari tetangga barunya yang tidak berhenti meminta bantuan, kucing liar yang hampir mati kedinginan, penumpang kereta yang hampir mati, pemuda tanggung yang ingin memperbaiki sepeda, sahabat lama yang hampir diangkut ke rumah perawatan, pemuda tanggung lain yang diusir dari rumahnya setelah mengaku gay, wartawan yang tidak menyerah dengan semangat jurnalistiknya, dan masih banyak hal lainnya.

Ove selalu mengunjungi makam isterinya dengan membawa bunga warna merah muda. Ove senang bercakap-cakap dengan isterinya yang selalu diam ketika ditanyai banyak hal olehnya. Jelas ya kenapa? :)

Buku ini mengisahkan gangguan-gangguan yang dialami oleh Ove itu. Gangguan-gangguan yang membuatnya terlalu sibuk sehingga gagal untuk mengeksekusi rencana kematiannya sendiri. 

Air mata saya tidak berhenti juga! :)

Saya bisa turut merasakan bagaimana rasa sayang Ove dirasakan oleh orang-orang yang terus-menerus menganggu ketenangannya. Meskipun Ove nyolot dan muram, mereka tidak meninggalkannya. Mereka justru semakin menempel kepadanya.

Kehangatan hubungan Ove dengan para pengganggu ini membuat Ove lupa akan rencananya. Ove tidak jadi bunuh diri.

Kupikir inilah yang membuat hidup layak untuk dijalani. Compassion towards people, animal, and the surroundings. The connections that somehow touches you in the core of your heart. That is why life beautiful. Helping each other. Being kind to other living creature. Taking side to the oppressed people. Happy when people happy. Crying when people going through something horrible. Support other people with the good cause. 

Ahh.. Membaca buku ini sungguh sebuah pengalaman yang menghangatkan hati. Membuatku mengingat kembali akan kebaikan-kebaikan yang membuat hidup layak untuk dijalani. Mengingat akan indahnya hidup melalui hal-hal sederhana. 

Mungkin memang hidup layak untuk dijalani, meskipun hari-hari yang kita lalui tidak mengurangi rasa sakit yang kita alami. Mungkin masih ada alasan yang belum kita temukan untuk tetap hidup. Untuk memilih hidup. Mungkin alasan-alasan itu masih layak untuk ditunggu dan dicari.


Komentar

Postingan Populer